Saat Hujan ...





Saat hujan...
Apa kabarmu
Lesung roman bersinar
Di lidah yang kaku Fade 2 Black feat. Audrey (GAC) Tapiheru

Sore itu, ketika senja dengan anggun mengibaskan sinar-sinar yang sayup membelah langit mendung. Rintik demi deras hujan turun dengan lentik, rintik. Membasahi setiap daun, menyapu embun, pada setiap dahan yang ranum.
            Tetesan kedua, tanah menjadi saksi lembut dan lentiknya pada gerimis sore itu. Basah dan segar bau tanah yang entah sudah payah oleh panas, atau memang sudah amat rindu oleh hujan. Tetes demi tetes yang masih turun mulai deras, keras. Di dalam ruangan penuh kaca ini segelas kopi hangat berhasil menemani keadaan melankolisku yang dengan secara tiba-tiba teringat olehmu, oleh dirimu.
            Entah apa yang membuatku ingat kepada dirimu. Mungkin lama aku tidak berbasah dengan hujan yang selalu membuatku bisa secara lancar dan lantang menyebut namamu. Partikel per partikel terus turun dengan drastis dan fantastis. Tanpa melibatkan angin ataupun petir. Pesona hujan sore hari.
            Apa kabarmu?. Sudah lama aku tidak mendengar dengusan napas hangatmu di pelipis telingaku. Semoga sehat selalu dirimu yang sangat amat jauh di dasar hati yang hampir hilang tenggelam. Semoga selalu baik.
            Apa kabarmu?. Entah seseorang ataukah dzat sebenarnya dirimu. Yang sedikit aku tahu dari dulu aku kecil sampai sekarang matamu begitu jernih, di sekelilingmu ada begitu banyak cahaya yang berkerumun dan berebut tempat untuk menjadi yang terdekat denganmu. Jaga dirimu.
            Bagaimana kabarmu?. Sudah hampir dua puluh tahun aku mengenalmu, mengeja per huruf namamu dengan teliti dan hati-hati. Namun sampai saat ini aku belum juga merasa benar-benar jatuh cinta kepadamu. Apakah sekarang cintamu padaku pun mulai luntur dan mulai membenciku?.
            Apa kabarmu baik-baik saja?. Dua puluh tahun bukanlah waktu yang sebentar untukku menunggu. Lesung roman yang bersinar itu oleh sebagian makhluk bahkan seluruh alam berhasil membekap mereka untuk tidak bisa lagi mengucap namamu. Lidah mereka kelu, suara mereka kaku oleh hantaman letupan gelombang cinta pada dirimu. Sedangkan aku?.
            Masih baik-baik sajakah dirimu saat ini?. Aku dengar, dan yang selalu aku dengar para Malaikat tak pernah berhenti untuk menjagamu. Mendekap cahayamu, membiaskan sayangmu kepada pelangi untuk tetap berwarna. Dan tentunya para Malaikat itu tak pernah beranjak dari sisimu kan?.
            Jika memang kabarmu sedang tidak baik atau kurang enak badan, mungkin bisa menggunakan jasaku untuk sekedar bercerita. Jangan bawa beban sendirian, berbagilah denganku. Aku ini diciptakan untuk menemani, melengkapi siapapun.
            Atau mungkkin engkau merasa bahwa kita ini tidak sederajat, tidak pada maqom yang sama?. Janganlah berpikiran seperti itu. Walaupun memang secara dzohir dan bathin, kita berada pada strata kasta yang jauh berbeda, berada pada maqom yang sangat jauh tak terbatas jaraknya. Namun, izinkanlah aku untuk mendengar keluh kesahmu, gelisahmu, sedihmu, senangmu.
            Singkirkanlah dulu jubah kesombonganmu. Aku tahu engkau masih menyimpan jubah kesederhanaan dengan peci yang mewah. Gunakanlah itu, agar aku bisa sedikit mengimbangi penampilanku untuk melihat gesturmu, senyummu, takdrimu, dan pancaran cahayamu. Karena sudah lama sekali engkau tidak menjengukku untuk sekedar berbagi cerita. Atau malah aku yang secara lancang sudah lama tidak bertamu ke kediamanmu?. Maafkan aku.
            Mungkinkah hujan sore ini adalah ceritamu yang sedang berduka?. Apa yang sedang engkau duka-kan?. Kita bisa saling bertukar cerita dan kalimat dengan nada “sok” bijak. Jika engkau mau. Walaupun kalimat “sok” bijak dariku tidak akan sebijaksana dan penuh wibawa seperti kalimat-kalimatmu dalam penggalan suratmu.
            Tapi inilah aku, tercipta untuk menemani, saling melengkapi siapa atau apa saja yang memang membutuhkan. Aku bukanlah hanya segumpal tanah dan darah yang ditiupi nyawa. Aku ini pembiasan cahaya Tuhanku, walaupun mulai redup.
            Namun aku tetaplah makhluk yang dengan gelimang dosa selalu ingat kepadamu. Meski mungkin hanya se per sekian detik dalam detak waktu yang diberikan untukku. Tapi, itu masih “mending” kan, dari pada tidak pernah ingat?. Aku sadar ini mungkin tidak sopan dan begitu kurang ajar, namun beginilah caraku meluapkan ekspresi cinta padamu. Melalui surat tak bermoral, dengan kata dan kalimat yang tak formal.
            Hujan masih belum reda ketika aku tulis rangkaian kalimat ini. Padahal sore sudah mulai dikuasai kabut petang, tak seluruhnya. Suara Qori’ dari corong Masjid saling sahut menyahut mendendang surat. Sebentar lagi Adzan, sebentar lagi petang.
            Aku disini masih ingin tahu apa kabarmu saat ini, ketika hujan turun dengan deras ini. Setidaknya berilah aku jawaban “Baik” atau mungkin sebatas “jempol” yang nyasar ke akun Facebook-ku.
            Jika engkau berkenan menjawab pertanyaanku yang memang sedang rindu dan kangen padamu, yang sedang khawatir terhadap cintamu padaku, tulislah surat untukku, atau mungkin jika lebih sempat dan berkenan datanglah ke rumahku. Masih ingatkan?.
            Sebenarnya ada banyak sekali pertanyaan yang ingin aku dialog-kan dengan engkau. Tapi mungkin engkau akan bosan karena kupaksa untuk terus membaca kalimat tak bermoral dariku ini. Salam dariku untukmu, untuk malaikatmu, dan untuk seluruh makhlukmu, Tuhan.
            Salam sejahtera. 9 Februari 2016
Reaksi:

0 Respon:

Posting Komentar