Tampilkan postingan dengan label PMII. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PMII. Tampilkan semua postingan

UnTitled —



Akhir-akhir ini banyak sekali masalah yang terjadi dalam kepengurusan Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus (OMEK) PMII Cendekia Bojonegoro periode 2015-2016. Mulai dari sang ketua yang tidak mau sesekali menampilkan sebaris senyum untuk bawahannya, yang berimbas kepada anak buah yang bergantung pada titah sang ketua, jika sang ketua tidak mau hadir dalam sebuah acara rapat maka, para pion-pion yang ada di bawah pun akan berkata “ketuanya saja tidak hadir kok” atau “males ah, ketuanya saja juga males kok”.
          Padahal pada masa sekarang ini PMII Cendekia sedang mengalami masa terhimpit ditengah padang peperangan setelah beberapa waktu yang lalu ada “kucing” yang tiba-tiba berubah menjadi singa dan memakan anak-anak majikannya sendiri.
          “... Sekarang ini, PMII STIE seperti layang-layang tanpa benang, bidak catur tanpa raja. Apa yang terjadi dengan PMII mendatang adalah apa yang akan dilakukan oleh para pion-pion saat ini. Jika bidak caturmu tanpa raja, maka teruslah bertarung bukan demi rajamu, tapi demi tanah airmu.” ——

Darah Juang



            Judul di atas adalah sebuah judul lagu yang biasa dinyanyikan oleh para mahasiswa aktivis ketika sedang melakukan aksi atau demonstrasi. Lirik lagu tersebut menggambarkan betapa negeri ini amat subur dengan padi yang menghampar luas, namun juga menjadi ironi kerena mereka seperti sedang dijajah, kehilangan hak mereka bahwa negeri ini adalah negerinya.
            Lagu ini adalah salah satu lagu favorit saya setelah buruh tani, karena saat sedang menyanyikan atau mendengarkan lagu ini, saya merasa ada yang berdesir dalam hati saya. Entah apa yang membuat desiran itu, tapi saat itulah saya merasakan bahwa saya memang cinta Indonesia, cinta sepenuhnya dengan Indonesia. Mungkin seperti inilah lirik lagu tersebut:

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia


            Organisasi adalah sebuah wadah dimana semua orang bisa masuk dan mengasah pribadi mereka untuk menjadi lebih baik. Di dalam suatu organisasi pastilah terdapat aturan-aturan, norma-norma yang harus dijunjung dan dihormati oleh segenap warga organisasi. Aturan tersebut tersebut termaktub di dalam sebuah Anggaran Dasar dan Anggaran rumah Tangga (AD/ART).
            Tak berbeda jauh dengan organisasi yang ada, PMII adalah sebuah organisasi kaderisasi yang berjalan di tengah mahasiswa Islam Indonesia. PMII mengusung format Islam Indonesia yang bernaung Ahlu Sunnah Wal Jama’ah sebagai landasan berfikir untuk menentukan apakah layak atau tidaknya sebuah keputusan yang diambil. Semua dipetimbangkan dengan ASWAJA sebagai pertimbangan bertindak.

Mahasiswa dan Organisasi




         


          “Mahasiswa adalah sebagai agen perubahan dan agen pembangunan”. Kalimat tersebut sudah seringkali saya dengar dari berbagai mulut ke mulut maupun dari kuping ke kuping. Kalimat tersebut amat sangat populer bagi “beberapa” kalangan mahasiswa. Kenapa saya mengatakan beberapa, karena ada sebagian mahasiswa yang mengaku tidak pernah tahu dan tidak pernah hal tersebut. Apa yang salah dengan itu? Entahlah. Mungkin saja karena kurang bergaulnya mereka dengan para mahasiswa lain yang lebih senior, atau karena terkena sindrom mahasiswa yang menganut klan hedonistik. Entahlah.
          Mahasiswa adalah seorang yang menempuh pendidikan lanjutan setelah mengalami fase SMA yang begitu menyenangkan dengan sejumlah kejadian dan kenagan yang sulit terlupakan. Apa ini yang menyebabkan jiwa hedonis masih menggantung dalam diri mereka? Kita anggap saja iya, karena setelah mengamati beberapa pertimbangan tentang mengapa jiwa hedon mereka masih ada yaitu karena mereka baru saja keluar dari fase yang menyenangkan. Tentulah mereka menganggap bahwa kuliah itu seperti sekolah SMA, dan mahasiswa itu seperti siswa biasa.